Dari Masa Penjajahan Belanda Hingga Mancanegara, Kejayaan Rumah Makan Padang Tak Akan Pudar.

14 September 2023 / by Pilar Asia / in Tips & Tricks
{{ Dari Masa Penjajahan Belanda Hingga Mancanegara, Kejayaan Rumah Makan Padang Tak Akan Pudar. }}

Selama masa penjajahan Belanda, bisnis restoran Padang menjadi salah satu makanan favorit bagi orang Indonesia, bahkan hingga ke mancanegara.

Restoran Padang yang menyajikan hidangan khas Minang telah dengan cepat mendapatkan popularitas di seluruh nusantara karena tersebar di berbagai lokasi. Selain itu, cita rasa lezat makanan Padang, porsi yang besar, dan kelezatan nya menjadikannya sangat disukai oleh masyarakat.

Menurut data BPS tahun 2022, total usaha penyedia makanan dan minuman di Indonesia mencapai 11.223 pada tahun 2020, termasuk 8.042 restoran/rumah makan, 269 usaha katering, dan 2.912 usaha penyedia makanan dan minuman lainnya. Lebih dari separuhnya, atau sekitar 53,85%, berlokasi di pusat perbelanjaan.

Semua ini tersedia dengan harga yang terjangkau. Oleh karena itu, selama budaya makan nasi masih menjadi bagian penting dari kehidupan orang Indonesia, restoran Padang akan terus berkembang.

Sejalan dengan tradisi orang Minang yang merantau, restoran Padang telah tumbuh dan menyebar di seluruh Indonesia bahkan hingga ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Australia, Arab Saudi, Belanda, dan Amerika Serikat. Usaha restoran Padang ini telah mengalami perkembangan yang signifikan setelah berjalan sekian lama.

Kini, restoran Padang banyak yang telah bertransformasi menjadi bentuk modern dan beroperasi di pusat perbelanjaan mewah, berdampingan dengan merek global seperti KFC dan McDonald's. Jumlah restoran Padang yang ada sangat banyak.

Hanya di Jakarta dan sekitarnya, diperkirakan terdapat sekitar 20.000 restoran Padang, baik yang berukuran besar maupun kecil. Di antara ribuan restoran Padang tersebut, beberapa di antaranya telah tumbuh besar dan terkenal.


Sebuah jaringan restoran Padang yang sederhana namun mengimplementasikan sistem waralaba menjadi jaringan restoran Padang terbesar dengan lebih dari 200 restoran yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, dan beberapa cabang di Malaysia.

Restoran Padang lain yang juga termasuk dalam skala besar adalah Restoran Sari Ratu, yang memiliki sekitar 22 gerai di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Kuliner Minangkabau sangat beragam, meskipun ada banyak kesamaan, setiap wilayah di Sumatra Barat memiliki variasi masakan yang sedikit berbeda dari wilayah lainnya.

Misalnya, di sekitar Danau Maninjau, Agam, terdapat palai rinyuak yang tidak ditemukan di wilayah lain karena bahan dasarnya adalah ikan rinyuak (jenis ikan kecil) yang hanya ada di Danau Maninjau. Begitu juga dengan goreng/salai ikan bilih dari wilayah Solok dan Tanah Datar, ikan langka ini hanya dapat ditemukan di Danau Singkarak dan tidak ada di perairan lain di dunia.

Wilayah Agam memiliki masakan khas yang dikenal sebagai Nasi Kapau yang sangat digemari oleh banyak orang. Sementara wilayah Lima Puluh Kota menghasilkan Sate Danguang-Danguang dan Martabak Kubang, begitu juga dengan wilayah-wilayah lain yang memiliki makanan khas masing-masing.

Namun, karena keterbatasan bahan baku atau cara memasak yang rumit, tidak semua variasi masakan tersebut dapat ditemukan di restoran Padang.

Secara umum, restoran Padang biasanya menyajikan jenis masakan yang bahan bakunya mudah didapat dan mudah dimasak, seperti ayam goreng, ayam gulai, ayam bakar, dendeng balado, gulai tunjang, gulai ikan kakap, dan tentu saja rendang yang telah memenangkan pengakuan sebagai makanan terlezat di dunia, mengangkat citra kuliner Minangkabau dan Indonesia ke tingkat internasional.


Rumah makan Padang adalah jenis bisnis warung makan, rumah makan, atau restoran yang menghidangkan berbagai macam masakan Minangkabau yang berasal dari Sumatra Barat.

Bisnis ini memiliki reputasi yang cukup besar di Indonesia dan beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Australia, serta diminati oleh berbagai kelompok etnis dan bangsa yang berbeda. Ini karena masakannya yang enak dan kemampuannya untuk menyesuaikan rasa dengan selera masyarakat di daerah rumah makan tersebut berada.

Di luar Sumatra Barat, rumah makan Padang seringkali menyajikan masakan yang tidak terlalu pedas, berbeda dengan rumah makan di kota asalnya.

Bisnis rumah makan Padang hadir dalam berbagai tingkatan sosial, mulai dari warung Padang kaki lima dengan harga terjangkau hingga restoran mewah yang menargetkan kalangan atas dengan harga yang lebih tinggi sesuai dengan fasilitas yang ditawarkan.

Penamaan "Rumah Makan (RM) atau Restoran Padang" sebenarnya tidak sepenuhnya akurat, karena masakan dan pelaku bisnisnya tidak hanya berasal dari kota Padang, melainkan juga dari berbagai wilayah lain di Sumatra Barat, seperti Agam, Lima Puluh Kota, Padang Pariaman, Tanah Datar, Solok, dan lainnya. Setiap wilayah tersebut menghasilkan variasi rasa dan masakan yang agak berbeda satu sama lain.

Asal usul penamaan "Restoran Padang" pertama kali dapat dilacak melalui penelitian yang dilakukan oleh Surya Suryadi, seorang filolog di Universitas Leiden, Belanda. Ia menemukan bukti historis-empiris berupa iklan dari restoran Padang yang bernama "Padangsch-Restaurant Gontjang-Lidah" di Cirebon. Restoran ini dikelola oleh seorang perantau Minang, B. Ismael Naim, dan iklannya dimuat selama beberapa bulan pada tahun 1937 di harian Pemandangan yang diterbitkan di Batavia.

Tags: Makanan, Minangkabau Kuliner, Tradisional Warisan, Kuliner Cita, Rasa, Nusantara Bisnis, Makanan Kuliner, Indonesia Rumah, Makan, Padang Tradisi, Kuliner, Minang Jelajah, Rasa Kuliner, Warisan Cita, Internasional Sejarah, Mancanegara Minangkabau, Cuisine Kejayaan, Bisnis, Kuliner Makanan, Indonesia Perkembangan, Restoran Kuliner, Budaya Rasa, Autentik Jejak, Sejarah,
Pilar Asia

Leave a reply

Indonesia SME’s Marketplace

Ruko Graha Boulevard Summarecon Serpong, Jln. Gading Serpong Boulevard BVA1, Curug Sangereng,

Kec. Klp Dua, Kabupaten Tangerang, Banten 15810

METODE PEMBAYARAN


© 2023 Pilar Asia | PT Pilar Kemajuan Indonesia