Setelah masa pandemi, semangat bisnis waralaba semakin meningkat

29 August 2023 / by Pilar Asia / in Tips & Tricks
{{ Setelah masa pandemi, semangat bisnis waralaba semakin meningkat }}

Setelah pandemi Covid-19 mereda, semangat dalam industri bisnis waralaba kembali menggeliat. Bahkan, beberapa di antaranya berhasil mencatat pertumbuhan sekitar 7 persen setiap tahun. Model bisnis semacam ini dianggap cocok bagi individu yang ingin memulai usaha baru atau mendapatkan penghasilan pasif.

Fenomena ini terungkap saat acara pembukaan pameran Info Franchise dan Konsep Bisnis (IFBC) di Palembang, Sumatera Selatan, pada Jumat (28/7/2023). Pada kesempatan tersebut, terdapat 45 perusahaan waralaba yang menawarkan peluang bagi para investor untuk berinvestasi.

Anang Sukandar, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia, menjelaskan bahwa bisnis waralaba sempat terpukul selama masa pandemi Covid-19. Terutama waralaba di sektor kuliner dan ritel mengalami dampak signifikan. "Karena pembatasan aktivitas masyarakat, banyak yang terpaksa tutup," katanya.

Namun, situasi ini secara perlahan membaik ketika dampak pandemi mulai mereda. Pada kuartal kedua tahun 2022, sektor-sektor yang terdampak kembali pulih. Ditambah dengan sektor-sektor potensial seperti apotek, minimarket, toko elektronik, dan lainnya.



Anang menegaskan bahwa Indonesia memiliki berbagai keunggulan jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Salah satu keunggulan tersebut adalah tingginya tingkat konsumsi domestik di Indonesia. Inilah yang menjadi alasan mengapa perekonomian Indonesia dapat bertahan dalam situasi yang lebih baik daripada negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, yang sangat mengandalkan sektor ekspor.

Kelebihan yang dimiliki dalam hal konsumsi domestik diharapkan akan mendorong pertumbuhan permintaan dalam negeri yang tinggi, menciptakan pangsa pasar internal yang kuat. "Permintaan domestik yang meningkatlah yang membuat banyak investor tertarik untuk menginvestasikan modalnya, salah satunya melalui model bisnis waralaba," tegas Anang.

 " Dibandingkan negara lain, Indonesia memiliki berbagai keunggulan, salah satunya adanya konsumsi domestik yang begitu tinggi. "


Saat ekonomi terus tumbuh dengan pesat, hal ini akan memiliki dampak positif pada pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Terutama dengan adanya transformasi digital, diharapkan bahwa kehadiran bisnis waralaba juga dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan usaha kecil dan menengah di suatu daerah.

Herman Deru, Gubernur Sumatera Selatan, mengungkapkan bahwa sektor bisnis waralaba memiliki manfaat dalam membantu para pengusaha pemula untuk memulai usaha mereka. "Ada kemungkinan seseorang memiliki modal, tetapi belum memiliki konsep atau jaringan perdagangan yang tepat. Inilah mengapa bimbingan menjadi penting," katanya.




Herman menyampaikan bahwa pemerintah memberikan dukungan terhadap konsep bisnis ini. Tujuan dari dukungan tersebut adalah agar bisnis ini mampu memberikan peluang kepada para pengusaha untuk memulai atau mengembangkan usaha mereka.

Lebih lanjut, Sumsel merupakan salah satu pusat ekonomi yang memiliki signifikansi nasional, diperkuat oleh potensi sumber daya manusia dan lingkungan investasi yang kondusif. Kondisi ini secara nyata akan mendukung para pengusaha dalam memulai atau memperluas usaha mereka.

Tomy Sugianto, General Manager Marketing Franchise Alfamart, berpendapat bahwa Sumsel memiliki potensi besar sebagai daerah yang menjanjikan. Ini tercermin dari pertumbuhan jumlah gerai yang tetap stabil, dengan pertumbuhan sekitar 7 persen setiap tahunnya. "Khusus untuk Sumsel, sudah ada sekitar 500 gerai yang beroperasi," ujarnya.

Tomy juga menjelaskan bahwa sektor bisnis minimarket termasuk salah satu yang mampu bertahan di tengah pandemi karena mendapat dukungan pemerintah dalam menyediakan kebutuhan masyarakat. "Inilah sebabnya mengapa sektor ini tidak mengalami penurunan selama pandemi, malah terus berkembang," tambahnya. Bahkan, sektor ini berhasil menjaga stabilitas lapangan kerja selama pandemi dan tetap mengalami pertumbuhan.




Untuk dapat bergabung, pihak tersebut menyajikan berbagai penawaran kepada para calon investor, di mana mereka dapat memulai usaha dengan modal sebesar Rp 500 juta. Keputusan ini didasarkan pada pertimbangan lokasi yang memiliki potensi untuk perkembangan bisnis, seperti dekat dengan sekolah, kantor pemerintahan, atau pemukiman penduduk. Selain itu, faktor penting lainnya adalah lokasi yang berada di area dengan lalu lintas yang ramai.

Semua pertimbangan ini dirancang untuk memastikan bahwa investor tidak mengalami kerugian. "Kami menargetkan bahwa titik impas atau break-even point dapat dicapai dalam 3,5 tahun," ungkap Tomy.

Kepala Kemitraan Erafone Angkasa Mart, Purbaya, juga telah mengadopsi konsep serupa sejak tahun 2020. Tujuannya adalah untuk memperluas usaha melalui kemitraan. Menurutnya, melalui sistem ini, produk yang ditawarkan dapat mencapai masyarakat dengan lebih efisien.

Angkasa menjelaskan bahwa hingga saat ini, di seluruh Indonesia, terdapat sekitar 77 gerai yang tersebar di pulau Jawa dan Sumatera. Khusus untuk Sumsel, saat ini belum memiliki mitra, tetapi potensinya sangat besar.




Tags: ekonomi, retail, palembang, umkm, perdagangan, erafone, sumsel, alfamart, waralaba, jaringan, konsep,
Pilar Asia

Leave a reply

Indonesia SME’s Marketplace

Ruko Graha Boulevard Summarecon Serpong, Jln. Gading Serpong Boulevard BVA1, Curug Sangereng,

Kec. Klp Dua, Kabupaten Tangerang, Banten 15810

METODE PEMBAYARAN


© 2023 Pilar Asia | PT Pilar Kemajuan Indonesia